Selasa, 30 Juni 2020

Toriqoh 109 : Matinya Agama Dalam Hati

Tanpa sadar,rasa keagamaan dalam hati kita ternyata bisa mati."Tanda utama rasa agama dalam hati mati adalah apabila terjadi sesuatu ada dirinya dianggap bukan takdir Allah SWT,"kata pengasuh PP Darul Ulum Rejoso,KH Cholil Dahlan,Sabtu (27/6).Sebab orang yang rasa keagamaan dalam hatinya hidup,setiap terjadi sesuatu pada dirinya selalu bertanya apa yang dikehendaki Allah SWT atas kejadian ini."Dan selalu melihat kesalahan diri dalam menjalankan sunnatullah yang ada,"tutur Ketua MUI Jombang ini.Hal itu sesuai nasehat yang dsampaikan oleh Syekh Abdul Qodir Jailani di pondoknya,Minggu pagi,3 Syawal 545 H.Ahli toriqoh hatinya selalu terpancang kepada Allah.Buah zikir yang selalu dibaca melalui lisannya.Kemudian masuk kedalam hatinya.Sehingga mengalir dalam darahnya."Melihat sesuatu ingat Allah.Mau melangkah ingat Allah.Mau melakukan sesuatu ingat Allah,"urai Kiai Cholil.Sehingga ketika menerima atau mengalami sesuatu,dia langsung ingat Allah sebagai pemberinya.Baik itu sesuatu yang baik maupun buruk.Orang yang seperti ini berarti hatinya hidup."Terkena korona pun,orang yang hatinya hidup tetap ingat Allah SWT,"urai Kiai Cholil.Sehingga bisa ikhlas & tawakkal menerima.Orang yang seperti ini,sakitnya akan cepat sembuh.Sebagaimana diakui sejumlah pasien positif korona yang sudah sembuh.Seperti pasien positif nomor 1 & nomor 4 di Jombang.Keduanya selama isolasi menghatamkan Al Quran 2 kali & setiap hari banyak membaca zikir serta sedekah.Sehingga hatinya ikhlas,tawakkal,pasrah & berserah diri kepada Allah SWT.Hal itu justru meningkatkan imun & mempercepat kesembuhan.Sebaliknya,orang yang ketika mengalami sesuatu tak bisa menerima.Bahkan merasa bukan takdir Allah,merupakan tanda matinya agama,tauhid,tawakkal,& ikhlas dalam hatinya.Orang yang tidak bisa menerima ketika divonis korona,hatinya akan berontak.Ini meningkatkan aliran darah sehingga bisa memicu serangan jantung.Mayoritas pasien korona meninggal karena disertai serangan jantung."Agar hati tenang,kita harus yakin semuanya dari Allah,"terangnya.Sesuatu yang jelek sekalipun,karena yang memberikan Allah,pasti ada nilai kebaikannya.Sakit korona misalnya.Jika diterima dengan sabar,menghapus semua dosa.Jika tabah,yang meninggal dicatat syahid akhirat.Isolasi pun diberi pahala uzlah.Orang yang rasa keberagamaan dalam kondisi hidup,hanya fokus kepada Allah.Seperti yang dicontohkan Nabi Ibrahim.Ketika hendak dibakar dalam api,malaikat penjaga air menawarinya.Apakah ingin apinya diguyur air?Malaikat penjaga angin menawarinya,apakah apinya diterbangkan?.Malaikat Jibril menawari,apakah kamu butuh dengan aku?Nabi Ibrahim menjawab,aku tidak butuh kalian.Aku butuh hanya kepada Allah.Malaikat Jibril lantas menyarankan,kalau begitu mintalah kepada Allah! Ibrahim menjawab,aku tak perlu minta.Allah sudah tahu keadaanku.Allah lantas memerintahkan api menjadi dingin.Ketika korona kita pasrahkan kepada Allah sebagai penciptanya,kita pasti akan menerima anugerah terbaik dari-Nya.(Di kutip dari Radar Jombang,Jawa Pos,29 Juni 2020).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label : KEGIATAN