Rabu, 07 November 2018

Hoax Penculikan Anak Picu Kejahatan,Jangan Asal Copy Paste.

MOJOKERTO KOTA-Isu penculikan anak yang menyeruak akhir-akhir ini dapat berefek buruk terhadap psikologis kondisi sosial masyarakat.Bagaimana tidak,isu yang belum kebenarannya itu di rasa mampu mengundang munculnya sejumlah jenis kejahatan lain.Apalagi,kabar tersebut hanya berasal dari media sosial/medsos yang penyebarannya tanpa di dasari sumber,bukti & saksi jelas sehingga patut dipertanyakan maksud & tujuannya.Hal ini yang seharusnya wajib di sikapi secara bijak & arif oleh masyarakat & aparat penegak hukum agar situas tetap terjaga & kondusif."Sebenarnya permasalahan ini adalah soal kontrol informasi dari media sosial.Efek dari perkembangan IT/Informasi & Tehnologi yang tidak terbendung.Sebaiknya masyarakat jangan asal copy paste/copas yang justru malah memperkeruh suasana,"ungkap Hj Hamidah SH,MH,pemerhati anak & perempuan di Mojokerto.Wanita yang menahkodai Lembaga Perlindungan Perempan & Anak/LPPA Binna Annisa & juga sebagai Ketua dari KIM Swadaya,Kelurahan Kauman,Kecamatan Prajurit Kulon,Kota Mojokerto ini menerangkan,efek penyebaran berita hoax begitu besar terhadap stabilitas keamanan & ketertiban masyarakat.Masyarakat tidak hanya dibuat resah,tetapi juga phobia dalam lingkungan sosialnya sehingga cukup mengganggu hubungan satu sama lain.Tidak hanya itu,Hamidah menilai efek isu penculikan anak ini justru dapat memperbesar peluang pelaku kejahatan dalam melancarkan aksi di mana mereka bisa saja memanfaatkan momentum hangatnya isu penculikan & kekerasan anak dengan memancing kepanikan warga sehingga stabilitas keamanan menjadi labil.Kondisi ini yang seharusnya disadari masyarakat sebagai fenomena yang tidak perlu dibesar-besarkan,sebab efek terbesar tetap berada pada psikis anak sebagai objeknya."bagi pelaku,justru momen seperti ini menjadi bahan bagi mereka untuk mencari pelang,"imbuhnya.Hamidah mengimbau agar masyarakat menjadi netizen yang bijak dengan tidak mencantumkan anak sebagai objek secara berlebihan dalam membahas isu yang sensitif seperti memasang foto anak yang kemudian di sebarluaskan.Sebab,tidak dipungkiri tingkat psikologis anak belum cukup kuat.(Di kutip dari Radar Mojokerto,Jawa Pos,7 November 2018).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label : KEGIATAN