Kamis, 16 Agustus 2018
Binrohtal 465 : Hati-hati Memahami Al-Our'an
Saat ngaji usai Shalat Dhuhur di Masjid Polres Jombang,Selasa (14/8).Pengasuh PP Hidayatul Qur'an Tembelang,Ustadz Yusuf Hidayat menjelaskan pentingnya mempelajari Al-Qur'an dari guru yang kompeten."Harus hati-hati mempelajari Al-Qur'an,apalagi cuma dari Al-Qur'an terjemahan,sebab setan bisa dengan mudah menggelincirkannya,"pesannya.Jika tidak hati-hati,seseorang akan terjerumus pada mempertentangkan ayat Al Qur'an yang satu dengan yang lain termasuk kekufuran.karena Al-Quran merupakan satu kesatuan.Jika tidak hati-hati,seseorang akan terjerumus pada menafsirkan Al-Quran sesuai akal nafsu & syahwatnya,Rasulullah SAW dengan tegas menyatakan,siapa saja yang menafsirkan Al-Quran dengan pendapatnya sendiri,maka bersiap-siaplah duduk di neraka.Makanya dalam memahami al-Qur'an,para ulama senantiasa merujuk pada para sahabat,tabiin serta tabiit,tabiin dan ulama yang benar-benar menguasai Alquran.Beliau cerita,baru-baru ini viral di media sosial ceramah seorang dai yang menyebut Muhammad "sesat"sebelum menjadi Nabi di umur 40 tahun.Berdasarkan QS Ad-duha 7,Sehingga perayaan Maulid Nabi atau Muludan,dia anggap sebagai merayakan kesesatan."Pernyataan Ustadz ini salah & menyesatkan,"jelasnya.Dalam Tafsir Ibnu Katsir di sebutkan,yang dimaksud terseat dalam ayat itu yakni Nabi Muhammad SAW yang pernah tersesat dibebatuan Mekkah saat beliau masih kecil,namun kemudian beliau bisa kembali.Ada juga yang menyatakan,Nabi tersesat bersama dengan pamannya dijalanan Kota Syam,saat sedang mengendarai unta di malam hari kemudian,datang iblis yang menyesatkan jalan Nabi,lalu datang Malaikat Jibril yang mengusir iblis dengan tiupan yang membuat iblis kabur hingga Habasyah kemudian Nabi bisa kembali ke jalan yang dituju.Kedua riwayat ini diceritakan oleh Imam Al-Baghawi.Dari sini dapat kita pahami,maksud pernyataan "tersesat"yang ada dalam Surat Al-Dhuha 7 tersebut yakni Nabi pernah tersesat jalan & kemudian mendapatkan pertolongan dari Allah SWT untuk kembali ke jalan yang dituju.Hal ini sangat jauh dari penjelasan sang Ustadz di medsos yang menyebut Nabi "sesat" sebelum kenabian dengan menggunakan ayat tersebut."Mendalami agama tidak cukup dengan baca buku terjemahan,browsing & download youtube,tapi harus ada guru yang membimbing rohani kita.Imam Ibnu Mubarak berkata,siapa yang belajar agama tanpa guru,maka gurunya adalah setan,"pungkasnya.(Di kutip dari Radar Jombang,Jawa Pos,15 Agustus 2918).
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar